Public Discussion #2 HIMAHI Universitas Jayabaya : Persaingan Ekonomi Global Rivalitas Antara Negara-Negara Besar dalam Sistem Internasional Kontemporer
- 15 Juli 2026, 21:17 WIB
- /
- Dilihat 15 kali
Oleh : Silvia Magdalena Siburian, Mahasiswi FISIP HI Jayabaya
Jakarta, 15 Juli 2026 - Dinamika ekonomi politik internasional belakangan ini seolah berada dalam titik didih yang sulit dipahami jika hanya dilihat dari permukaan berita harian. Menjawab kegelisahan tersebut, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jayabaya menggelar Public Discussion #2 berjudul ““Persaingan Ekonomi Global: Rivalitas Antara Negara-Negara Besar dalam Sistem Internasional Kontemporer.” yang membedah tajam relasi antara negara besar dan sistem ekonomi dunia. Menghadirkan Dr. Ichsanuddin Noorsy sebagai narasumber utama, forum ini berhasil menarik garis merah yang menghubungkan sejarah moneter masa lalu dengan ancaman "kelumpuhan" ekonomi yang sedang kita hadapi saat ini.
Dalam pemaparannya, Pak Noorsy tidak sekadar mengulas teori, melainkan membongkar apa yang beliau sebut sebagai Silent Invasion atau invasi senyap. Ini adalah bentuk invasi yang bekerja melalui penaklukan struktur seluler ekonomi sebuah negara tanpa perlu melepaskan satu peluru pun. Jika dulu invasi ditandai dengan kehadiran militer, kini bentuknya jauh lebih halus melalui standarisasi keuangan, ketergantungan utang, hingga dikte regulasi global yang membatasi ruang kebijakan negara kita. Beliau menjelaskan secara fundamental bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang terjepit dalam Sandwich Effect, di mana kita ditekan oleh mahalnya biaya impor dan proteksionisme global di bagian atas, serta dihantam oleh beban utang dan ruang fiskal yang sempit di bagian bawah.
Salah satu fakta paling menohok yang diungkapkan adalah mengenai paradoks likuiditas, di mana terdapat dana sebesar Rp2.509 triliun dalam bentuk undisbursed loan yang macet di perbankan. Uang tersebut sebenarnya sudah memiliki plafon kredit, namun tidak kunjung dicairkan ke sektor riil karena perbankan yang terjebak dalam sikap wait and see. Akibatnya, produktivitas nasional terus tergerus dan tercipta pemiskinan struktural, di mana angkatan kerja kita terpaksa terlempar ke sektor informal tanpa jaminan sosial karena tidak adanya penciptaan lapangan kerja formal yang baru.
Lebih jauh, diskusi ini juga membedah transformasi arena pertarungan kekuasaan global. Jika pada 2008 kita melihat harga minyak mentah menjadi instrumen geopolitik untuk menekan negara pengimpor, hari ini medan pertempuran telah bergeser ke ranah teknologi, semikonduktor, dan sistem informasi. Pak Noorsy mengingatkan bahwa situasi dunia saat ini berada dalam kondisi competitive co-existence, di mana negara-negara besar memang bersaing memperebutkan pengaruh namun tetap terpaksa hidup berdampingan dalam rantai pasok global yang sama. Pola lama yang sering diulang adalah menciptakan "musuh bersama" atau tudingan atas isu global untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan struktural di dalam negeri mereka sendiri.
Sebagai penutup, Pak Noorsy menegaskan bahwa posisi Indonesia seringkali hanya menjadi objek karena kita terlalu lama berdamai dengan sistem yang menyesatkan.
Untuk keluar dari lingkaran setan ini, dibutuhkan langkah drastis berupa pembangunan autonomi strategis, mulai dari reindustrialisasi hingga memperkuat ketahanan moneter yang tidak mudah didikte oleh pihak luar. Pesan ini menjadi pengingat personal bagi kita mahasiswa HI bahwa membebaskan bangsa dari kehinaan, ketimpangan, kemiskinan, kebodohan, dan ketindasan adalah muara dari seluruh teori hubungan internasional yang kita pelajari. Bagi kita yang hadir, diskusi ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan ajakan untuk melatih kepekaan dalam membaca pola di balik setiap dokumen dan angka yang tampak berdiri sendiri. (Silvia Magdalena Siburian)