Memahami Hilal sebagai Penentu Awal Ramadan

JAYABAYA.AC.ID, JAKARTA - Hilal atau bulan baru dalam bahasa Arab jadi penanda dimulainya bulan baru dalam kalender Islam. Hilal juga jadi penanda dimulainya Ramadan dan Idul Fitri.

Kebutuhan nutuk menentukan kemunculan hilal jadi salah satu dorongan bagi ilmuwan Muslim dalam mempelajari ilmu astronomi. Ketika bulan baru telah terlihat secara jelas dengan mata telanjang, umat Islam akan memulai penghitungan hisab atau penampilan bulan baru.

Meski bisa diperkirakan, penentuan awal Ramadan tetap mengadalkan kemunculan hilal. Pemantauan hilal dilakukan di beberapa lokasi menggunakan teleskop jelang terbenamnya Matahari.

Ada beberapa patokan dalam menentukan hilal yakni altitude, elongation, umur bulan, fase, lag, refraksi, dan dip. Altitude merupakan besaran yang menunjukkan ketinggian objek suatu benda langit yang diukur dari horizon ke objek langit, Sperti dilansir CNNIndonesia.com.

Sementara elongation merupakan sudut yang dibentuk oleh dua objek langit yang dilihat oleh pengamat. Umur bulan dihitung berdasarkan selisih dari terbenamnya Matahari dengan peristiwa ketika Matahari dan Bumi berada dalam satu garis di bidang ekliptika (konjungsi).

Lag dihitung berdasarkan selisih antara waktu terbenamnya Matahari dengan waktu terbenamnya bulan. Refraksi di sisi lain merupakan pembiasan cahaya dari suatu objek benda langit oleh atmosfer. Sementara dip merupakan efek kerendahan horizon pengamat.

Hilal dianggap terlihat jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Ketika Matahari terbenam, altitude-nya tidak lebih dari 2 derajat dan sudut elongasinya tidak kurang daripada 3 derajat.

  2. Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku.

Saat hilal terlihat, Kementerian Agama akan melakukan sidang isbat untuk menentukan awal dan akhir Ramadan.

Posted in Bewara on May 16, 2018


Share to :